14 01 2016
dear you..
hari ini, terasa lebih berat untuk mengetahui hasil pekerjaanku dipertanyakan..
semoga esok aku bisa lebih membuntikkan diriku juga hasil kerjaku yang lebih baik..
Kamis, 14 Januari 2016
Selasa, 28 Oktober 2014
Dear you…
“K’ Amir..aku tahu kamu sangat menyayangi aku..aku pun begitu k’..tapi, tidak seperti yang kakak harapkan. Maaf..”. Hal itu terucap begitu saja setelah sekian lama k’ Amir memendam perasaan itu terhadapku.
Kini, kurang lebih 3 tahun sudah aku menjalin pertemanan dengan k’ Amir. K’ Amir yang sangat perhatian terhadapku dibanding dengan teman lelaki lain yang pernah dekat denganku. Tapi k’ Amir hanyalah teman bagiku, teman, kakak dan sahabat bagiku. Setelah sekian lama aku bersamanya, kembali aku mengingat-ingat kembali perjalanan kami ketika pertama kali bertemu dan akhirnya bisa seakrab dan sedekat ini.
Waktu itu aku masih semester dua di salah satu universitas ternama di Makassar. Aku memutuskan kembali tinggal di kost dimana sebelumnya aku telah ngekost di tempat yang lain. Aku pindah kost untuk mencari suasana baru. Dan saat itulah suasana baru dimulai. Ketika aku pulang dari kampus dimana aku selesai mengisi kegiatan himpunan, disaat hujan telah membasahi bumi beberapa menit yang lalu, saat itulah awal mula aku bertemu dengan k’ Amir. K’ Amir yang sedang berada di depan kamar kostnya saat itu, dan aku yang ingin masuk ke kost aku.. tapi terkendala dengan banjirnya jalan masuk ke kost aku saling bicara. “ Kira-kira kalau aku masuk saja dengan melewati banjir ini, apa aku akan basah kuyup k’?” kataku pada k’ Amir yang waktu itu aku tak tahu sama sekali namanya. “ iya de’, sepertinya akan kebasahan, apalagi hujannya belum begitu reda” kata k’ Amir padaku. Dengan begitu aku pun mengurungkan niatku untuk melewati jalan setapak yang banjir itu dan menunggu hingga banjirnya cukup surut.
Sejak saat itulah k’ Amir mencari tahu tentangku ke temannya yang ternyata juga temanku. Lama setelah k’ Amir memiliki nomor handphone aku, barulah kemudian dia memberanikan diri untuk menghubungiku. Dan sejak saat itulah aku mulai dekat dengan k’ Amir. Aku sering ke kamar kostnya walau hanya untuk ngobrol atau nonton tv. Tiap kali melewati kamar kostnya aku selalu menyempatkan menyapa k’ Amir, walau hanya berteriak memanggil “ k’ Amiiiirrr!!! Aku ke kampus yaa..” .
Hari-hariku bersama k’ Amir kulewati dengan sangat menyenangkan dan tidak sungkan untuk berekspresi. Selera lagu kami cukup banyak yang sama membuat kami terkadang nyanyi-nyanyi bersama, gila-gilaan bersama, ketawa-ketawa bersama bahkan saling mencela satu sama lain. Dan hal itu makin mengakrabkan kami. Tiap kali aku memiliki pacar, aku sering curhat dengan k’ Amir. Semua masalah yang kualami pun sering aku ceritakan ke k’ Amir. Tiap kali aku meminta tolong pada k’ Amir, k’ Amir selalu mengusahakan agar bisa membantuku. K’ Amir selalu ada di saat aku butuh dorongan semangat. Dan ketika aku merasa sedih dengan sesuatu dan butuh teman, aku akan mendatangi k’ Amir dan seketika itu juga aku merasa lega dengan nasehat-nasehat yang dia berikan.
Aku sering meminta maaf pada k’ Amir mengenai sifatku yang moody-an, tapi k’ Amir tak pernah marah dengan itu. K’ amir sangat mengerti aku yang masih belum dewasa, yang masih kekanakan dalam menghadapi sesuatu. Bahkan k’ amir malah sering menasehatiku agar segera merubah sikap anehku, bisa menjaga diriku sendiri dan menjadi dewasa.
Aku sayang k’ Amir,, tapi tidak untuk menjadi kekasih. Aku sayang k’ Amir sebagai seorang adik yang sayang kakaknya, sebagai seorang sahabat dan keluarga. K’ Amir orang yang special bagiku.. Entah kata orang bagaimana terhadapku, mungkin ada yang bilang aku hanya memanfaatkan kebaikan k’ Amir. Tapi sesungguhnya, aku sangat butuh orang seperti dia. Orang yang bisa membuatku kembali tenang jika merasa marah dan jengkel terhadap sesuatu, orang yang bisa membuat aku menceritakan semua keluh kesahku, orang yang dewasa mengajarkanku sesuatu dan orang yang sangat sabar dan ikhlas menghadapi aku.
Aku sayang k’ Amir,, tapi tidak untuk menjadi seorang istri untuknya.. Aku hanya ingin dia tetap seperti sekarang. Tetap menjadi kakak yang baik untukku, hingga kelak dia mendapatkan orang yang betul-betul sayang kepadanya dengan harapan yang sama dengan k’ Amir.
Entah bagaimana aku harus membayar semua kebaikan k’ Amir. Aku hanya berharap bisa tetap membuat k’ Amir nyaman pernah mengenal aku…
Terlalu banyak kenangan menyenangkan bersama k’ Amir.. Dan entah hal apa yang membuat k’ Amir menjadi seperti ini. Tiba-tiba saja aku mengetahui bahwa k’ amir ingin pergi. Aku segera menghubunginya dan menanyakan kenapa dia ingin pergi tanpa membicarakan terlebih dahulu padaku. Dengan alasan k’ Amir seperti ini “ untuk hidup lebih baik dan bisa terbiasa tanpa kamu”. Seketika itu juga aku sadar bahwa ternyata k’ Amir selama ini menyimpan rasa sayangnya terhadapku dan menahan perasaan itu hingga akhirnya dia mengatakannya dan aku tidak bisa menerima itu… Aku sangat merasa bersalah, entah apa yang harus aku lakukan. Aku tidak bisa begitu saja melarang k’ Amir pergi. Jika aku melarangnya, aku yakin k’ Amir akan makin tersiksa dengan perasaan yang dia rasakan. Sehingga dengan penjelasan yang cukup panjang dari k’ Amir dan jawaban aku yang masih saja tidak bisa memberikan apa yang diharapkan k’ Amir.. Aku merelakan dan mengikhlaskan k’ Amir untuk pergi, walau aku sedikit takut jika k’ Amir pergi. Aku takut tidak ada lagi yang bisa benar-benar mengerti aku dan memperhatikan aku lebih. Tapi aku tak bisa begitu saja egois dengan keputusan k’ Amir..
Dan akhirnya k’ Amir memutuskan pergi, tapi tidak saat itu juga. K’ Amir mengurungkan niat untuk pergi saat itu juga. K’ Amir merasa harus memikirkan matang-matang keputusan yang dia ambil.
Suatu saat setelah kejadian itu, k’ Amir menghubungiku dan membicarakan baik-baik mengenai keputusan yang ingin dia ambil untuk mencari peruntungan di luar. Dia meminta pendapatku dan tentu saja aku mendukung k’ Amir. Jika hal itu baik untuk k’ Amir dan bisa membuat k’ Amir lupa akan perasaannya terhadapku, maka aku akan sangat mendukungnya.
Selamat tinggal k’ Amir..baik-baiklah disana, tetap menjadi k’ Amir yang aku kenal. K’ amir yang sangat baik terhadap siapa saja dan k’ Amir yang sangat menyayangi keluarga terutama orang tuanya…
Aku sangat berharap akan ada wanita yang akan menjemput perasaan k’ Amir sama dengan yang diharapkan k’ Amir.. Aku akan selalu menyayangi k’ Amir seperti ini hingga akhirnya hal itu harus terhenti oleh sesuatu yang membahagiakan bukan sesuatu yang menyedihkan.
Kamis, 21 Agustus 2014
Skripsi..skripsi..Sudah sebulan lebih dari hari pengajuan judul skripsi yang kulakukan. Tapi hingga saat ini masih belum ketahuan juga bab 4 yang harusnya sudah terisi. Di fikiranku hanya dibebani oleh orang lain, oleh urusan orang lain. Sedang perasaanku hanya diisi dengan rasa iri dan jengkel kepada orang-orang terdekatku, yaa teman-temanku.
Harusnya aku bisa fokus dengan skripsiku sendiri, bukan dengan urusan yang tidak seharusnya aku urusi. Hal inilah yang selama ini menyita waktu dan fikiranku. Hal tak bermanfaat inilah yang membuat bab 4 ku tak terisi hingga kini.
Aku ingin fokus..aku ingin tidak memikirkan keberhasilan orang lain.. Tapi apa? hal itu masih saja mengganggu.
Tuhan..Engkau mendengarkan keluhku..ambillah sifat buruk pada diriku dan jadikan aku makhluk yang bisa menata hidup dengan iman ikhlas dari diriku..
Sesungguhnya Engkau Maha melihat lagi mendengar..
Harusnya aku bisa fokus dengan skripsiku sendiri, bukan dengan urusan yang tidak seharusnya aku urusi. Hal inilah yang selama ini menyita waktu dan fikiranku. Hal tak bermanfaat inilah yang membuat bab 4 ku tak terisi hingga kini.
Aku ingin fokus..aku ingin tidak memikirkan keberhasilan orang lain.. Tapi apa? hal itu masih saja mengganggu.
Tuhan..Engkau mendengarkan keluhku..ambillah sifat buruk pada diriku dan jadikan aku makhluk yang bisa menata hidup dengan iman ikhlas dari diriku..
Sesungguhnya Engkau Maha melihat lagi mendengar..
Tuhan…hal ini
kembali mengganggu perasaanku..
Pulang dari
Pangkep, rumah keluargaku, setelah silaturahmi..dimana hal ini adalah hal yang
sangat berarti bagiku kelak. Tapi masalah itu kembali mengganggu. Kenapa harus
ada rumah itu jika hanya akan membuat masalah dalam keluargaku Tuhan? Aku tidak
ingin keluargaku terpisah walaupun itu bukan “pisah” yang sesungguhnya. Aku
tidak ingin kehidupan seperti ini..
Suasana rumah
yang tidak seramai dulu.. keluarga yang terbagi.. makanan yang harus
diantarkan..
Semua hal itu
sangat tidak menyenangkan Tuhan.. kenapa orang tuaku seperti ini? Kenapa mereka
masih harus saling egois? Saling gengsi? Saya tidak ingin seperti iniiii..
Bagaimana saya
menyatukan keluarga ini kembali? Apa yang harus saya lakukan Tuhan? Tiap kali
hal ini dibahas, hanya akan memicu emosi orang tuaku..terutama bapakku. Jika
hal itu dibahas hanya akan membuat kedua orang tuaku saling marah. Dan suasana
akan kembali menjadi lebih tak menyenangkan..
Bukakan pintu
keluar Mu Tuhan untuk masalah dalam keluargaku ini.amiin.
Sabtu, 05 April 2014
Iri!
yups..kalian pasti tau apa itu, sifat yang bagaimana "iri" itu. sifat jelek kah dia, atau baik kah dia itu terserah kalian yang mau menilainya seperti apa.
siapa pun pasti pernah merasakannya.. dan kali ini, sifat yang kata orang penyakit hati itu berkali-kali menimpa saya.
Sesak sangat yang saya rasakan ketika melihat teman2 saya berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka usahakan terbayar.
Kadang saya berpikir, usaha mereka tidak lebih baik dengan apa yang saya usahakan, tapi kenapa mereka bisa mendapat lebih dari saya? hhfft.. hal itu membuat saya su'udzon sama Tuhan..kenapa Engkau begitu pilih kasih Tuhan? apa salah saya???
Mereka akhirnya bisa tertawa lepas, puass dengan apa yang mereka peroleh. Sedangkan saya? hanya bisa meratapi kesenangan mereka, iri dan membenci nasib yang menimpa saya.
aaAAARrrgGGH!!!!
Saya sangat benci dengan dia dan mereka yang begitu senang dan tidak melihat usaha saya selama ini untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan secara langsung apa yang saya inginkan juga. keinginan kami sama, namun nasib yang ada pada kami berbeda. nasib mereka lebih mujur dan saya hanya bisa menjadi pecundang. hahhaa. (y)
Oke! sekarang kita akan lihat siapa yang bakal tertawa di garis finish kelak. apakah kalian dengan nasib mujur kalian itu, atau saya dengan sifat iri saya ini!!
yups..kalian pasti tau apa itu, sifat yang bagaimana "iri" itu. sifat jelek kah dia, atau baik kah dia itu terserah kalian yang mau menilainya seperti apa.
siapa pun pasti pernah merasakannya.. dan kali ini, sifat yang kata orang penyakit hati itu berkali-kali menimpa saya.
Sesak sangat yang saya rasakan ketika melihat teman2 saya berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka usahakan terbayar.
Kadang saya berpikir, usaha mereka tidak lebih baik dengan apa yang saya usahakan, tapi kenapa mereka bisa mendapat lebih dari saya? hhfft.. hal itu membuat saya su'udzon sama Tuhan..kenapa Engkau begitu pilih kasih Tuhan? apa salah saya???
Mereka akhirnya bisa tertawa lepas, puass dengan apa yang mereka peroleh. Sedangkan saya? hanya bisa meratapi kesenangan mereka, iri dan membenci nasib yang menimpa saya.
aaAAARrrgGGH!!!!
Saya sangat benci dengan dia dan mereka yang begitu senang dan tidak melihat usaha saya selama ini untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan secara langsung apa yang saya inginkan juga. keinginan kami sama, namun nasib yang ada pada kami berbeda. nasib mereka lebih mujur dan saya hanya bisa menjadi pecundang. hahhaa. (y)
Oke! sekarang kita akan lihat siapa yang bakal tertawa di garis finish kelak. apakah kalian dengan nasib mujur kalian itu, atau saya dengan sifat iri saya ini!!
Senin, 04 November 2013
Dia.. (2)
Tuhan..apa yang akan terjadi nanti?
perasaanku aneh, aku mulai tidak yakin dengan perasaanku..apa yang ada dipkirankuuu..
Sejak Tio mengatakan kata-kata itu aku mulai merasa aneh. Kenapa dia berkata seperti itu?ada apa dengan dia?aku terlalu takut untuk menanyakannya, aku takut hal itu akan menyakitinya..
Aku tak bisa tidur memikirkannya,,dan kuputuskan untuk menanyakannya..aku akan ke rumah Tio.
"Assalamu alaikum?.."."iya, waalaikum slam..eh km ri,ayo masuk..". Aku duduk dihadapannya, menatap wajahnya yang selalu menenangkanku. Dan memberanikan diri untuk menanyankannya. "eemm..Tio, apa kamu ada masalah?tolong cerita sama aku kalau kamu ada masalah..aku akan sedih jika kamu tidak membagi kegundahanmu Tio". "Aku tahu kamu pasti akan heran dengan sikapku kemarin yang tiba-tiba berkata aneh..Thari sayang..aku hanya". Sambil mengubah posisi duduknya dan pindah disampingku, dia menggemgam tanganku erat. "Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada hubungan kita Ri..aku takut kamu akan jenuh dengan hubungan kita, dengan kehidupan keluargaku, adik2 ku bahkan aku sendiri Ri..aku takut kamu akan jenuh denganku, dengan semua kewajiban yang aku lakukan".."Tenang Tio, jangan berfikir seperti itu, aku senang dengan kehidupan keluargamu. Aku sudah menganggap Ibumu seperti Ibuku sendiri, begitu pula dengan adik2mu. Aku sayang mereka Tio, seperti aku menyayangimu. Selama ini aku pun tidak pernah keberatan dengan rutinitasmu sebagai kakak untuk adik2mu, begitupula dengan kewajibanmu sebagai anak dari Ibumu Tio. Aku sudah terlanjur sayang dengan semuanya, aku sangat sayang keluargamu Tio. Aku sayang kamu Tio"..
Setelah dari rumah Tio waktu itu, aku semakin yakin dengan perasaanku dan aku akan selalu sayang Tio..
Hari-hariku bersama Tio kujalani seperti biasanya, tak ada yang berubah kecuali rasa sayang kami berdua yang semakin baertambah. Tiap kali bersama Tio, ada saja temanku yang iri dengan keakraban kami. Katanya kami terlalu kekanakan karena terus-terusan bersama dan tidak bisa mandiri. Namun nyatanya mereka tak tahu apa-apa tentang kami dan hal itu sama sekali tidak mengganggu hubungan kami.
Sabtu pagi, aku ke rumah Tio. Seperti biasanya aku membawa mkanan buatan sendiri dari rumah. Tio memang sering memintaku untuk membuatkan dia mkanan, katanya untuk membiasakan diri menjadi ibu rumah tangga kelak. Tapi hal itu tidak membuatku risih, aku senang saja dan dengan begitu pun aku juga belajar menjadi calon istri yang baik di mata Tio. Itu adalah harapan kami berdua.
Sesampainya di rumah Tio, aku pun tidak segan-segan menyiapkan mkanan yang sudah kusiapkan untuknya. Kuajak Ibu dan adik2nya untuk ikut makan bersama, walau Ayah Tio tidak bersama kami karena kerja di Jakarta hal ini tak mengubah suasana rumah saat itu, senang rasanya melihat mereka mkan masakanku.
Kata Tio, minggu depan dia akan ujian skripsi. Tentu saja tanpa disuruhnya aku membantunya menyiapkan semua kebutuhannya, baik itu pakaian yang akan digunakannya, mkanan yang akan disiapkan untuk para pengujinya dan tentu saja menggantikan Tio mengantar adiknya ke sekolah. Aku pun tidak mengganggu Tio dengan sms2 dariku untuk beberapa saat hingga Tio selesai ujian walau dia tak menyuruhku.
Dan akhirnya tiba hari itu, Tio dengan kemeja putih dan celana hitam yang sudah kusiapkan jauh hari siap untuk berperang dengan para dosen pengujinya.
Sekitar 2 jam aku menunggunya selesai ujian, tepat di depan ruangan uji. Dan kemudian dia keluar dengan raut wajah haru. "Thari sayang, aku lulus dengan nilai yang memuaskan.."katanya kemudian. Aku langsung memeluknya dan ikut bahagia dengan kesuksesan ujian yang diraihnya.
Sebulan setelah acara wisuda Tio, Tio datang ke rumah. "Thari, aku ingin membicarakan sesuatu", katanya padaku saat itu. "Baik cerita saja, ada apa?tidak biasanya kamu ke rumah hanya untuk membicarakan sesuatu Tio, adaapa?", kataku kemudian. "Begini, seperti yang kamu tahu bahwa sebulan ini aku sudah mendaftar kerjaan di beberapa perusahaan. Dan...aku baru dapat kabar semalam kalau aku ternyata diterima Ri..". "Loh?bagus dong sayang, trus ada apa?kenapa wajahmu ragu begitu?", tanyaku. "Masalahnya, aku diterima di Jakarta Ri..aku tidak mau jauh darimu", kata Tio menatapku. Walau sedikit terkejut mengetahui Tio diterima di Jakarta aku tetap mencoba menyemangatinya, karena aku tahu dia sangat membutuhkan pekerjaan itu. "Bagus dong Tio, kau akan bertemu ayahmu disana kan. Jangan khawatir begitu, aku senang kamu diterima Tio dan aku tidak mau menjadi penghalang untuk kesuksesanmu" sakit rasanya mengatakannya. "Benar kamu setuju Ri?kamu tak apa2 aku tinggal ke Jakarta?" tanyanya lagi. "Tidak apa2 sayang, aku yakin ayahmu akan senang kalau kamu kerja disana. Yang jelas kamu jangan sampai lupa sama aku yah, aku terlalu sayang kamu Tio", dengan senyum penuh haru kuikhlaskan Tio pergi meninggalkanku. "Terimakasih sayang, aku juga sayang kamu, aku tidak akan melupakanmu" kata Tio.
Itu kalimat terakhir Tio sebelum dia akhirnya harus berangkat ke Jakarta. Selama beberapa minggu menjalani hubungan jarak jauh ini, aku mulai terbiasa. Tio tetap menghubungiku rutin, di Jakarta dia tinggal bersama ayahnya. Dia pernah menceritakan tentang rekan kerjanya yang sering jail mengutak-atik isi handphone Tio, nama temannya adalah Alvin. Tio pernah mengenalkanku dengan dia, orangnya lucu dan benar-benar jail. Dia pernah menggunakan handphone Tio dan menghubungiku dan memberitahu kalau Tio masuk rumah sakit tapi ternyata tidak. Aku sampai kaget dan cepat2 menghubunginya, dan akhirnya lega mendengar suara Tio yang baik2 saja.
5 bulan menjalani hubungan jarak jauh ini, tidak membuatku khawatir. Karena Tio tetap tidak berubah denganku, tetap seperti Tio yang kukenal. Hari-hari pun terus berlalu, hingga akhirnya kurasakan gelagat aneh dari Tio. Dia mulai jarang menghubungiku awalnya aku memakluminya, mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya. Namun tiap kali ku kirimi pesan singkat, tak pernah ada balasan darinya. Aku pun menghubunginya namun tak jarang nomor Hp nya sibuk.
Aku mulai gelisah, dan mencoba menanyakan pada Alvin. Namun, Alvin tak memberikanku jawaban yang mengurangi kegelisahanku. Kata Alvin, dia sudah dipindahkan ke divisi lain dan tidak bersama Tio lagi. Aku pun semakin gelisah, aku menceritakan masalah ini pada mama. Kata mama aku harus siap dengan kenyataan yang mungkin terjadi dan mama menyuruhku untuk tidak terlalu berharap dengan Tio. Hal ini semakin membuatku takut, takut kehilangan imam yang kunanti selama ini, takut cita2 yang telah direncanakan bersam hanya cerita belaka dan tentunya takut kalau Tio akhirnya bersama wanita lain.
Aku sangat terpukul dengan keadaan ini, Tio yang dulu kukenal sangat mengkhawatirkanku jika jauh darinya kini entah bagaimana kabarnya.
Lebih lagi ketika ke rumah Ibunya, ternyata mereka sekeluarga telah pindah ke Jakarta tanpa memberitahuku. "Apa yang terjadi Tuhaaan.".teriakku dalam doa.
Hingga setahun kemudian,kudapati surat di depan pintu rumahku yang berisikan...
Dear k' Thari yang kusayang
Bagaimana kabar kk'?aku sangat berharap kk' baik-baik saja disana..
aku sangat mencemaskan kk' kurang lebih selama setahun ini. maaf k' karena tidak pernah mengabari kk' selama ini, bahkan waktu pindah ke Jakarta kami pun tidak mengabari kk'. sebenarnya aku sangat menentang waktu ayah memutuskan kami untuk pindah ke Jakarta, tapi ayah bersi keras untuk meminta kami pindah sehingga dengan berat hati aku ikut pindah. Saat tiba di Jakarta aku segera meminta k' Tio untuk menghubungi kk'. Tapi ayah melarangku dan segera melempar handphone k' Tio hingga rusak. aku tidak mengerti dengan sikap ayah saat itu, bahkan k' Tio yang aku fikir sangat sayang sama kk' tidak berani untuk kembali menghubungi kk' saat dilarang sama ayah.Maafkan k' Tio k'..k' Tio sangat sayang sama kk' bahkan hingga saat ini. k' Tio yang memberitahuku alamat kk' sehingga aku bisa mengirim surat ini ke kk'.
Sebenarnya ayah punya rekan kerja di kantor, selama ini ayah sudah berencana untuk menikahkan k' Tio dengan anak rekan kerja ayah itu. Namanya mbak Dian, mbak Dian orangnya tidak pakai jilbab kayak kk'. k' Tio sangat sedih k' waktu diberitahu ayah kalau harus menikahi mbak Dian. k' Tio tidak berani menolak karena takut penyakit jantung ayah yang selama ini dideritanya kumat. Ibu juga sedih k' ketika tahu k' Tio akan dijodohkan dengan mbak Dian.. seminggu lagi acara nikahan k' Tio k', aku sangat ingin kk' yang duduk di pelaminan bersama k' Tio. aku sangat sedih melihat k' Tio yang dengan pasrahnya menerima perjodohan ini k'.
Aku sangat sayaaaang sama kk', begitu pula dengan ibu dan lebih lagi k' Tio. tiap malam aku melihat k' Tio mendoakan kk' agar segera bertemu dengan jodoh yang cocok untuk kk' dan memberi kebahagiaan pada kk'.
Jangan sedih ya k', semoga kk' bisa menerima ini semua..
maafkan k' Tio k', maafkan ayah yang tidak tahu tentang hubungan kk' dengan k' Tio..
semoga kk' mendapatkan jodoh yang pantas untuk kk'.
cium peluk dari aku k'
Pipit..
Terjawab semua pertanyaan di benakku selama ini..k' Tio yang sangat kusayang ternyata untuk orang lain..Tak hentinya aku menangis saat membaca surat dari Pipit, kupeluk erat tubuh mamaku yang ikut menangis melihatku. Seorang imam keluarga yang kudambakan selama ini telah disiapkan untuk wanita lain.. Rasa sayangku yang begitu besar terhadap k' Tio harus hilang begitu saja..
Selamat menempuh hidup baru k' Tio yang kusayang,,semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah,,seperti yang kita rencanakan dulu...
Rabu, 09 Oktober 2013
Dia.. (1)
Ini tentang dia..
Dia yg pernah aku kenal, tiap hari bersamanya tak membuat aku sedikit pun menoleh untuk berpindah hati. Panggil saja dirinya Tio, Tio adalah orang yang cukup menarik yang pernah bersamaku. Dia anak yang sangat sayang dengan keluarganya. Dia pernah memperkenalkanku dengan salah satu adiknya yang bernama Pipit, dia anak yang manis..
Dia yg pernah aku kenal, tiap hari bersamanya tak membuat aku sedikit pun menoleh untuk berpindah hati. Panggil saja dirinya Tio, Tio adalah orang yang cukup menarik yang pernah bersamaku. Dia anak yang sangat sayang dengan keluarganya. Dia pernah memperkenalkanku dengan salah satu adiknya yang bernama Pipit, dia anak yang manis..
Pipit pun mengakui kalau dia sangat bahagia memiliki kakak yang sangat menyayanginya, tiap hari Tio yang mengantarkan Pipit ke sekolah maupun kembali menjemputnya setelah waktu sekolah berakhir.
Ketika bersamanya, aku pun tak pernah mengeluhkan sesuatu kecuali dia sering telat untuk menjemputku ke kampus karena dia mengutamakan untuk mengantar Pipit ke sekolah lebih dahulu. Aku tak marah, tapi terkadang aku cemburu karena hal seperti itu.. Seakan aku tak penting..
Semakin lama bersamanya, aku sudah mulai mengerti dengan sikapnya yang sering telat menjemputku ke kmpus maupun mengenai kecemburuanku selama ini, aku pun bisa mengatasinya. Aku sadar kalu dia anak lelaki satu2nya yg bisa diandalkan oleh keluarganya.
Pernah suatu ketika dia menggenggam tanganku dan mengatakan seperti ini "Thari..bisa kah engkau melepas rasa letih ini dariku?bisa kah engkau tetap seperti ini kelak jika sesuatu terjadi pada hubungan kita?.."
Aku tak tahu harus berkata apa,,aku heran dan tak mengerti dengan apa yg dikatakannya saat itu. Sehingga aku terdiam dan hanya bisa mengangguk. Kulihat sisi lain di matanya, ketakutan yg tak pernah kulihat selama ini sejak bersamanya..
Sejak saat itu aku terus menyemangatinya walaupun sebenarnya aku tak mengerti apa yg dimaksudnya, aku terlalu takut untuk bertanya, aku takut hal itu akan menyakitinya.
Tak kusangka 2 tahun bersamanya membuatku semakin yakin bahwa hanya dia yang bisa membuatku bahagia, hanya dia yang kelak akan menjadi imam dalam rumah tanggaku. Orang tuaku pun sangat menyayanginya, kata Ibuku dia adalah anak yg sangat menyayangiku tulus dan aku pun seperti itu.
Orang tua Tio sepertinya juga menyukaiku, hal itu kulihat ketika aku berkunjung ke rumahnya. Ibunya terus menyuruhku nginap tiap kali aku berkunjung.Pipit pun senangnya bukan main jika aku datang, dia pasti akan memintaku untuk mengajarinya make up dan berdandan dengan jilbab. Katanya dia sangat suka melihat tatanan jilbabku dengan make up yang natural. Belum lagi Riri adik Tio yg bungsu, selalu saja memintaku untuk digambarkan sketsa dirinya. Padahal aku tak begitu pandai, Tio lebih pandai dariku. Tentu saja, dia adalah pria yg membuatku jatuh hati ketika ada pagelaran lukis khusus untuk mahasiswa arsitektur di kampus. Dia melukis wajah ibu dan adik2nya sebagai suatu makna kebahagiaan menurut dirinya..
Bersambung..
Langganan:
Postingan (Atom)